Dengarlah anak ibu berpesan,
Lengkapkan diri dengan pelajaran,
Hanyalah itu jadi bekalan,
Untuk hidup di masa depan.
Ilmu itu pelindung diri,
Seperti kebun berpagar duri,
Seperti sinar intan baiduri,
Itulah tanda orang jauhari.
Hidupmu kini di masa remaja,
Bagaikan permata amat berharga,
Jangan jatuh ke lembah hina,
Nanti menyesal tidak berguna.
Kalau hidup terasa susah,
Sering berhadapan dengan masalah,
Hadapi dengan hati yang tabah,
Jangan cepat resah gelisah.
Syaitan menggoda bertambah gundah,
Jangan mengambil jalan yang mudah,
Jangan sekali mencuba dadah,
Kalau terjerat sesal tak sudah.
Jika masa sudah terbuang,
Perginya tidak akan berulang,
Di hari tua sesal mendatang,
Mengingatkan waktu yang telah hilang.
Dunia bagai lautan dalam,
Gelomang besar karangnya tajam,
Di situ banyak kapal tenggelam,
Ramailah insan yang telah karam.
Ingatlah wahai anakku sayang,
Tanah indah pusaka moyang,
Jangan terlepas ke tangan orang,
Sedangkan kita miskin terbuang.
Zurinah Hassan
Langit di Tangan, 1995.
Dewan Bahasa dan Pustaka.
Personal collection of poems and quotes from magazines, books, articles and friends =)
Click here if you like the post! ^^
Showing posts with label Life. Show all posts
Showing posts with label Life. Show all posts
Friday, March 23, 2012
Tuesday, March 20, 2012
Pantun Nasihat
Kayu cendana diatas batu
Sudah diikat dibawa pulang
Adat dunia memang begitu
Benda yang buruk memang terbuang
Parang ditelak berbatang sena
Belah buluh taruhlah temu
Barang dikerja takkan sempurna
Bila tak penuh menaruh ilmu
Kemuning ditengah balai
Bertumbuh terus semakin tinggi
Berunding dengan orang tak pandai
Bagaikan alu pencungkil duri
Jalan-jalan ke kota Blitar
Jangan lupa membeli sukun
Jika kamu ingin pintar
belajarlah dengan tekun
makanan tersaji dipasang lampu
lampu menyinari di atas meja
naiklah haji bagi yang mampu
memenuhi panggilan dari-NYA
Friday, August 13, 2010
If
If you can keep your head when all about you
Are losing theirs and blaming it on you
If you can trust yourself when all men doubt you
But make allowance for their doubting too
If you can wait and not be tired by waiting
Or being lied about don't deal in lies
Or being hated don't give way to hating
And yet don't look too good, nor talk too wise
If you can dream and not make dream your master
If you can think and not make thoughts your aim
If you can meet with Triumph and Disaster
And treat those two impostors just the same
If you can bear to hear the truth you've spoken
Twisted by knaves to make trap for fools
Or watch the things you gave your life to, broken
And stoop and build them up with worn-out tools
If you can make one heap of all your winnings
And risk it on one turn of pitch-and-toss,
And lose, and start again at your beginnings
And never breath a word about your loss;
If you can force your heart and nerve and sinew
To serve your turn long after they are gone,
And so hold on when there is nothing in you
Except the Will which says to them: "Hold on";
If you can talk with crowds and keep your virtue,
Or walk with kings - nor lose the common touch;
If neither foes nor loving friends can hurt you;
If all men count with you, but none too much;
If you can fill the unforgiving minute
With sixty seconds' worth of distance run
Yours is the Earth and everything that's in it,
And - which is more - you'll be a Man my son!
~ Rudyard Kipling ~
Are losing theirs and blaming it on you
If you can trust yourself when all men doubt you
But make allowance for their doubting too
If you can wait and not be tired by waiting
Or being lied about don't deal in lies
Or being hated don't give way to hating
And yet don't look too good, nor talk too wise
If you can dream and not make dream your master
If you can think and not make thoughts your aim
If you can meet with Triumph and Disaster
And treat those two impostors just the same
If you can bear to hear the truth you've spoken
Twisted by knaves to make trap for fools
Or watch the things you gave your life to, broken
And stoop and build them up with worn-out tools
If you can make one heap of all your winnings
And risk it on one turn of pitch-and-toss,
And lose, and start again at your beginnings
And never breath a word about your loss;
If you can force your heart and nerve and sinew
To serve your turn long after they are gone,
And so hold on when there is nothing in you
Except the Will which says to them: "Hold on";
If you can talk with crowds and keep your virtue,
Or walk with kings - nor lose the common touch;
If neither foes nor loving friends can hurt you;
If all men count with you, but none too much;
If you can fill the unforgiving minute
With sixty seconds' worth of distance run
Yours is the Earth and everything that's in it,
And - which is more - you'll be a Man my son!
~ Rudyard Kipling ~
Saturday, May 22, 2010
Pantun Pulau Pandan
Pulau Pandan jauh ke tengah
di balik pulau Angsa Dua;
Hampa badan hati pun gundah
karena engkau tidak teraba
Pulau Pandan kian merapat
gunung Kerinci menjulang tinggi;
Tiada teraba tiada terlihat
engkau di mana sukar dicari
Pulau Pandan jauh ke kanan
pulau Bintan di sebelah kiri;
Harus bagaimana aku gerangan
hendak berjumpa susah sekali
By: Ajip Rosidi
di balik pulau Angsa Dua;
Hampa badan hati pun gundah
karena engkau tidak teraba
Pulau Pandan kian merapat
gunung Kerinci menjulang tinggi;
Tiada teraba tiada terlihat
engkau di mana sukar dicari
Pulau Pandan jauh ke kanan
pulau Bintan di sebelah kiri;
Harus bagaimana aku gerangan
hendak berjumpa susah sekali
By: Ajip Rosidi
Monday, May 17, 2010
Pantun Agama
Sungguh indah pintu dipahat
Burung puyuh di atas dahan
Kalau hidup hendak selamat
Taat selalu perintah Tuhan
Halia ini tanam-tanaman
Ke barat juga akan rebahnya
Dunia ini pinjam-pinjaman
Ke akhirat juga akan sudahnya
Redup bulan nampak nak hujan
Pasang pelita sampai berjelaga
Hidup mati di tangan Tuhan
Tiada siapa dapat menduga
Belatuk di atas dahan
Terbang pergi ke lain pokok
Hidup mati ditangan Tuhan
Kepada Allah kita bermohon
Daun tetap di atas dulang
Anak udang mati dituba
Dalam kitab ada terlarang
Perbuatan haram jangan dicuba
Terang bulan terang bercahaya
Cahaya memancar ke Tanjung Jati
Jikalau hendak hidup bahagia
Beramal ibadat sebelum mati
Asam kandis asam gelugur
Ketiga asam si riang-riang
Menangis mayat di pintu kubur
Teringat jasad tidak sembahyang
Kulit lembu celup samak
Mari buat tapak kasut
Harta dunia janganlah tamak
Kalau mati tidak diikut
Banyaklah masa antara masa
Tidak seelok masa bersuka
Meninggalkan sembahyang jadi biasa
Tidak takut api neraka?
Dua tiga empat lima
Enam tujuh lapan sembilan
Kita hidup takkan lama
Jangan lupa siapkan bekalan
Kalau Tuan pergi ke Kedah
Singgah semalam di Kuala Muda
Sembahyang itu perintah Tuhan
Jika ingkar masuk neraka
Ramai orang menggali perigi
Ambil buluh lalu diikat
Ilmu dicari tak akan rugi
Buat bekalan dunia akhirat
Pak Kulup anak juragan
Mati diracun muntahkan darah
Hidup di dunia banyak dugaan
Kepada Allah kita berserah
Letak bunga di atas dulang
Sisipkan daun hiasan tepinya
Banyak berdoa selepas sembahyang
Mohon diampun dosa di dunia
Encik Borhan seorang kerani
Terkemut-kemut bila meniti
Tinggalkan sembahyang terlalu berani
Sepertii tubuhnya takkan mati
Sayang-sayang buah kepayang
Buah kepayang hendak dimakan
Manusia hanya boleh merancang
Kuasa Allah menentukan
Masa berada di Pulau Jawa
Rakan diajak pergi menjala
Maha Berkuasa jangan dilupa
Kuasa Allah tidak terhingga
Nyiur mudah luruh setandan
Diambil sebiji lalu dibelah
Sudah nasib permintaan badan
Kita di bawah kehendak Allah
Kemuning di dalam semak
Jatuh melayang ke dalam paya
Meski ilmu setinggi tegak
Tidak sembahyang apa gunanya?
Harimau belang turun sekawan
Mati ditikam si janda balu
Ilmu akhirat tuntutlah tuan
Barulah sempurna segala fardu
Kera di hutan terlompat-lompat
Si pemburu memasang jerat
Hina sungguh sifat mengumpat
Dilaknat Allah dunia akhirat
Anak ayam turun sepuluh
Mati seekor tinggal sembilan
Bangun pagi sembahyang subuh
Minta doa kepada Tuhan
Anak ayam turun sembilan
Mati seekor tinggal lapan
Duduk berdoa kepada Tuhan
Minta Allah jalan ketetapan
Anak ayam turun lapan
Mati seekor tinggal tujuh
Duduk berdoa kepada Tuhan
Supaya terang jalan bersuluh
Anak ayam turunnya lima
Mati seekor tinggal empat
Turut mengikut alim ulama
Supaya betul jalan makrifat
Anak ayam turunnya lima
Mati seekor tinggal empat
Kita hidup mesti beragama
Supaya hidup tidaklah sesat
Tuan Haji memakai jubah
Singgah sembahyang di tengah lorong
Kalau sudah kehendak Allah
Rezeki segenggam jadi sekarung
Bulu merak cantik berkaca
Gugur sehelai ke dalam baldi
Jika tak banyak kitab dibaca
Jangan mengaku khatib dan kadi
Inderagiri pasirnya lumat
Kepah bercampur dengan lokan
Sedangkan nabi kasihkan umat
Inikan pula seorang insan
Anna Abadi pergi berenang
Sambil berenang berdondang sayang
Jika hidup dikurnia senang
Jangan lupa tikar sembahyang
By: Ajip Rosidi
Burung puyuh di atas dahan
Kalau hidup hendak selamat
Taat selalu perintah Tuhan
Halia ini tanam-tanaman
Ke barat juga akan rebahnya
Dunia ini pinjam-pinjaman
Ke akhirat juga akan sudahnya
Redup bulan nampak nak hujan
Pasang pelita sampai berjelaga
Hidup mati di tangan Tuhan
Tiada siapa dapat menduga
Belatuk di atas dahan
Terbang pergi ke lain pokok
Hidup mati ditangan Tuhan
Kepada Allah kita bermohon
Daun tetap di atas dulang
Anak udang mati dituba
Dalam kitab ada terlarang
Perbuatan haram jangan dicuba
Terang bulan terang bercahaya
Cahaya memancar ke Tanjung Jati
Jikalau hendak hidup bahagia
Beramal ibadat sebelum mati
Asam kandis asam gelugur
Ketiga asam si riang-riang
Menangis mayat di pintu kubur
Teringat jasad tidak sembahyang
Kulit lembu celup samak
Mari buat tapak kasut
Harta dunia janganlah tamak
Kalau mati tidak diikut
Banyaklah masa antara masa
Tidak seelok masa bersuka
Meninggalkan sembahyang jadi biasa
Tidak takut api neraka?
Dua tiga empat lima
Enam tujuh lapan sembilan
Kita hidup takkan lama
Jangan lupa siapkan bekalan
Kalau Tuan pergi ke Kedah
Singgah semalam di Kuala Muda
Sembahyang itu perintah Tuhan
Jika ingkar masuk neraka
Ramai orang menggali perigi
Ambil buluh lalu diikat
Ilmu dicari tak akan rugi
Buat bekalan dunia akhirat
Pak Kulup anak juragan
Mati diracun muntahkan darah
Hidup di dunia banyak dugaan
Kepada Allah kita berserah
Letak bunga di atas dulang
Sisipkan daun hiasan tepinya
Banyak berdoa selepas sembahyang
Mohon diampun dosa di dunia
Encik Borhan seorang kerani
Terkemut-kemut bila meniti
Tinggalkan sembahyang terlalu berani
Sepertii tubuhnya takkan mati
Sayang-sayang buah kepayang
Buah kepayang hendak dimakan
Manusia hanya boleh merancang
Kuasa Allah menentukan
Masa berada di Pulau Jawa
Rakan diajak pergi menjala
Maha Berkuasa jangan dilupa
Kuasa Allah tidak terhingga
Nyiur mudah luruh setandan
Diambil sebiji lalu dibelah
Sudah nasib permintaan badan
Kita di bawah kehendak Allah
Kemuning di dalam semak
Jatuh melayang ke dalam paya
Meski ilmu setinggi tegak
Tidak sembahyang apa gunanya?
Harimau belang turun sekawan
Mati ditikam si janda balu
Ilmu akhirat tuntutlah tuan
Barulah sempurna segala fardu
Kera di hutan terlompat-lompat
Si pemburu memasang jerat
Hina sungguh sifat mengumpat
Dilaknat Allah dunia akhirat
Anak ayam turun sepuluh
Mati seekor tinggal sembilan
Bangun pagi sembahyang subuh
Minta doa kepada Tuhan
Anak ayam turun sembilan
Mati seekor tinggal lapan
Duduk berdoa kepada Tuhan
Minta Allah jalan ketetapan
Anak ayam turun lapan
Mati seekor tinggal tujuh
Duduk berdoa kepada Tuhan
Supaya terang jalan bersuluh
Anak ayam turunnya lima
Mati seekor tinggal empat
Turut mengikut alim ulama
Supaya betul jalan makrifat
Anak ayam turunnya lima
Mati seekor tinggal empat
Kita hidup mesti beragama
Supaya hidup tidaklah sesat
Tuan Haji memakai jubah
Singgah sembahyang di tengah lorong
Kalau sudah kehendak Allah
Rezeki segenggam jadi sekarung
Bulu merak cantik berkaca
Gugur sehelai ke dalam baldi
Jika tak banyak kitab dibaca
Jangan mengaku khatib dan kadi
Inderagiri pasirnya lumat
Kepah bercampur dengan lokan
Sedangkan nabi kasihkan umat
Inikan pula seorang insan
Anna Abadi pergi berenang
Sambil berenang berdondang sayang
Jika hidup dikurnia senang
Jangan lupa tikar sembahyang
By: Ajip Rosidi
Thursday, May 13, 2010
New Life
Though no one can go back and make a brand new start, anyone can start from now and make a brand new ending
~ Author Unknown ~
Wednesday, May 12, 2010
Forgiveness
To forgive is to set a prisoner free and discover that prisoner was you
~ Lewis B Smedes ~
Saturday, May 8, 2010
Desire and Action
The inner thought coming from the heart represents the real motives and desires. These are the cause of action.
~ Raymond Holliwell ~
Thursday, May 14, 2009
Janda Setinggan
Hari lahirnya Jumaat lalu
lipan menyengat telunjuk kirinya.
Dan dalam matanya yang letih berpusar
asap dan debu. Dunianya amat sedu.
Sesekali angin berang merentap baju
di tengkuknya terserlah pulau panau.
Derita kembaii menderu.
Katanya: Derita itu aku.
Dirinya cemas diterjah usia
dalam kabus belasungkawa -
dia tergigau hampir seminggu
diancam lipan, angin dan debu yang sama.
Desa bahagia, derita.
Katanya: Derita itu aku.
Antara jamban dan dapur
di sisi parit tohor
hari mukanya sabut, tin dan lumpur.
Kalut mega direnungi; kenyit
kilat tak berbunyi. Memang telinga
kirinya kini tuli.
Terjulur pegaga segar dan
ketip ketam cergas mencakar
dalam bakul kenangannya:
sanggul-molek-punggung-cantik
ulam kehidupan zaman penjajah
terlucut colinya suatu pagi
dia dicantasi janji lelaki -
dirinya bukan perawan lagi.
Cinta dan sejarah
mencakar langsir dan mencekau pintunya
menyembur bara mantera
“Aku teringat pandang pertama.”1
Untuk apa? Hingga bila?
Dihantar rayu-resah Sanisah Huri
diterimanya lesu-lara dendang R. Azmi
simfoninya rimba duri
disergah arus mimpi.
Dia yakin di situ
segala tersumpah sebagai batu;
menjadi lebih pasti, sesekali
disentap semboyan kereta api.
Dalam dakapan cubit tak sakit
dia tertipu empat kali
dia setinggan janda berganda
tercemar di belakang kereta.
Tapi, mimpi akhirnya pangsapuri
taman-mini-kolam-mandi
geli hatinya sepagi, kerana
dirinya bas mini
mendesah ke Dayabumi
bersaing rezeki. Dan
sejak anak tunggalnya mati
hikayatnya gunung ngeri,
kehidupannya puisi elegi.
Lalu, di larik bibir
gincu tak seri;
di bawah kenanga
bau tak wangi;
di sisi lampu
bayangtakjadi.
Dia diejek usia, diserapah cinta
empat kali dia terbelah.
Disedari dirinya janda
dijerat rindu -
perahu sepi diagah sunyi
antara Bidong dan Langkawi.
Dia belajar bahagia
di sisi lilin dan kucing yang lara.
Jumaat lalu, di tengah gempa Armenia,
dirai hari lahirnya -
bertunda rekod R. Azmi, käset Sanisah Huri,
berlumba kenangan meracuninya.
Dia terbiasa -
dalam cahaya malamnya siang,
dalam gelita siangnya malam.
Dan kini semakin
payah dikenalnya bila
jantan insan-hewani, bila
pula hewani-insani.
Lelaki tak dipercaya lagi.
Sejak itu bergilir tetangga
mengadapnya - sedu dalam ayat syahdu
Dan ketika racaunya sampai ke puncak
Tujuh kali dia tersentak.
Darah, najis dan muntah saling mengasak.
Dalam biliknya berdinding akhbar,
tingkap berkiut, lantai berlumut
dia mengucap semput.
Tercungap. Tersentap. Terhenti.
Matinya di sisi sisa nasi,
Rehal retak, subang pengantin, foto anak.
Tak mungkin jantan menipunya lagi!
By: A. Samad Said
lipan menyengat telunjuk kirinya.
Dan dalam matanya yang letih berpusar
asap dan debu. Dunianya amat sedu.
Sesekali angin berang merentap baju
di tengkuknya terserlah pulau panau.
Derita kembaii menderu.
Katanya: Derita itu aku.
Dirinya cemas diterjah usia
dalam kabus belasungkawa -
dia tergigau hampir seminggu
diancam lipan, angin dan debu yang sama.
Desa bahagia, derita.
Katanya: Derita itu aku.
Antara jamban dan dapur
di sisi parit tohor
hari mukanya sabut, tin dan lumpur.
Kalut mega direnungi; kenyit
kilat tak berbunyi. Memang telinga
kirinya kini tuli.
Terjulur pegaga segar dan
ketip ketam cergas mencakar
dalam bakul kenangannya:
sanggul-molek-punggung-cantik
ulam kehidupan zaman penjajah
terlucut colinya suatu pagi
dia dicantasi janji lelaki -
dirinya bukan perawan lagi.
Cinta dan sejarah
mencakar langsir dan mencekau pintunya
menyembur bara mantera
“Aku teringat pandang pertama.”1
Untuk apa? Hingga bila?
Dihantar rayu-resah Sanisah Huri
diterimanya lesu-lara dendang R. Azmi
simfoninya rimba duri
disergah arus mimpi.
Dia yakin di situ
segala tersumpah sebagai batu;
menjadi lebih pasti, sesekali
disentap semboyan kereta api.
Dalam dakapan cubit tak sakit
dia tertipu empat kali
dia setinggan janda berganda
tercemar di belakang kereta.
Tapi, mimpi akhirnya pangsapuri
taman-mini-kolam-mandi
geli hatinya sepagi, kerana
dirinya bas mini
mendesah ke Dayabumi
bersaing rezeki. Dan
sejak anak tunggalnya mati
hikayatnya gunung ngeri,
kehidupannya puisi elegi.
Lalu, di larik bibir
gincu tak seri;
di bawah kenanga
bau tak wangi;
di sisi lampu
bayangtakjadi.
Dia diejek usia, diserapah cinta
empat kali dia terbelah.
Disedari dirinya janda
dijerat rindu -
perahu sepi diagah sunyi
antara Bidong dan Langkawi.
Dia belajar bahagia
di sisi lilin dan kucing yang lara.
Jumaat lalu, di tengah gempa Armenia,
dirai hari lahirnya -
bertunda rekod R. Azmi, käset Sanisah Huri,
berlumba kenangan meracuninya.
Dia terbiasa -
dalam cahaya malamnya siang,
dalam gelita siangnya malam.
Dan kini semakin
payah dikenalnya bila
jantan insan-hewani, bila
pula hewani-insani.
Lelaki tak dipercaya lagi.
Sejak itu bergilir tetangga
mengadapnya - sedu dalam ayat syahdu
Dan ketika racaunya sampai ke puncak
Tujuh kali dia tersentak.
Darah, najis dan muntah saling mengasak.
Dalam biliknya berdinding akhbar,
tingkap berkiut, lantai berlumut
dia mengucap semput.
Tercungap. Tersentap. Terhenti.
Matinya di sisi sisa nasi,
Rehal retak, subang pengantin, foto anak.
Tak mungkin jantan menipunya lagi!
By: A. Samad Said
Friday, February 6, 2009
Sekawan Rerama
Sekawan rerama
Terbang tinggi mencari madunya
Dikelopak bunga yang kini semakin hilang
Ditelan pembangunan kejam
Hutan-hutan batu
Sekawan rerama
Terbang lagi mencari dedaun pohon
Untuk dihinggapi membuat sarang
Namun segala ranting kehidupan
Rapuh tersungkur
Di kaki pembalakan haram
Manusia menelan segala kekayaan anugerah Tuhan
Sekawan rerama
Terbang lagi
Dengan tekad penghijrahan
Kerana daerah tercinta kini
Menggamit sepi
Tiada lagi nyanyian unggas
Mewarnai rimba harapan ini
Sekawan rerama
Tertanya-tanya kini
Ke mana harus pergi?
By: Nor Sa’diah Sahir
Source: Majalah Dewan Siswa, Jun 2007
Terbang tinggi mencari madunya
Dikelopak bunga yang kini semakin hilang
Ditelan pembangunan kejam
Hutan-hutan batu
Sekawan rerama
Terbang lagi mencari dedaun pohon
Untuk dihinggapi membuat sarang
Namun segala ranting kehidupan
Rapuh tersungkur
Di kaki pembalakan haram
Manusia menelan segala kekayaan anugerah Tuhan
Terbang lagi
Dengan tekad penghijrahan
Kerana daerah tercinta kini
Menggamit sepi
Tiada lagi nyanyian unggas
Mewarnai rimba harapan ini
Sekawan rerama
Tertanya-tanya kini
Ke mana harus pergi?
By: Nor Sa’diah Sahir
Source: Majalah Dewan Siswa, Jun 2007
Jangan Berduka Cikgu
Jangan berduka cikgu
Jika budi yang kautabur
Tiada siapa menyanjungnya
Cukuplah jika sesekali ada muridmu
Berasa terhutang kepadamu
Setiap kali bersua di majlis perjumpaan
Jangan bersedih cikgu
Jika jasa yang kau curah
Tiada siapa mengenangnya
Cukupla jika sesekali ada muridmu
Tiba-tiba bertanya khabarmu
Setiap kali sambutan Hari Guru
Jangan berhiba cikgu
Jika bakti yang kaucurah
Tiada siapa menghargainya
Cukupla jika sesekali ada muridmu
Terpanggil menziarahimu
Setiap kali berkunjung ke alma-mater
Jangan bermurung cikgu
Jika khidmat yang kau luhur
Tiada siapa mewar-warkan
Cukuplah jika sesekali ada muridmu
Mendoakan agar kau sejahtera
Setiap kali menghantar anak ke sekolah
Jangan terkilan cikgu
Jika tiada gelar menghias namamu
Cukuplah sekadar panggilan cikgu
Kekal terukur di plak perkhidmatan
Dibawa bersemadi ke liang lahad
Jangan menyesal cikgu
Jika kerjaya murnimu tiada glamour
Cukupla sekadar menjana pahala
Dari setiap ilmu yang kau ajar
Kini dialir muridmu di sungai kehidupan
Di usia senjamu cikgu
Berkunjunglah kelorong kenangan
Imbaulah suara, tinjaulah telatah
Murid-muridmu yang tulus mengucapkan,
“Terima kasih, cikgu!”
Pada setiap kali kelas berakhir
Sambil membariskan wajah mereka
Yang kini berjaya menjadi ‘orang’
Berbahagialah wahai cikgu
Sesekali menjadi guru
Jadilah guru untuk selama-lamanya
Source: Majalah Dewan Siswa, 2007
Jika budi yang kautabur
Tiada siapa menyanjungnya
Cukuplah jika sesekali ada muridmu
Berasa terhutang kepadamu
Setiap kali bersua di majlis perjumpaan
Jangan bersedih cikgu
Jika jasa yang kau curah
Tiada siapa mengenangnya
Cukupla jika sesekali ada muridmu
Tiba-tiba bertanya khabarmu
Setiap kali sambutan Hari Guru
Jangan berhiba cikgu
Jika bakti yang kaucurah
Tiada siapa menghargainya
Cukupla jika sesekali ada muridmu
Terpanggil menziarahimu
Setiap kali berkunjung ke alma-mater
Jangan bermurung cikgu
Jika khidmat yang kau luhur
Tiada siapa mewar-warkan
Cukuplah jika sesekali ada muridmu
Mendoakan agar kau sejahtera
Setiap kali menghantar anak ke sekolah
Jangan terkilan cikgu
Jika tiada gelar menghias namamu
Cukuplah sekadar panggilan cikgu
Kekal terukur di plak perkhidmatan
Dibawa bersemadi ke liang lahad
Jangan menyesal cikgu
Jika kerjaya murnimu tiada glamour
Cukupla sekadar menjana pahala
Dari setiap ilmu yang kau ajar
Kini dialir muridmu di sungai kehidupan
Di usia senjamu cikgu
Berkunjunglah kelorong kenangan
Imbaulah suara, tinjaulah telatah
Murid-muridmu yang tulus mengucapkan,
“Terima kasih, cikgu!”
Pada setiap kali kelas berakhir
Sambil membariskan wajah mereka
Yang kini berjaya menjadi ‘orang’
Berbahagialah wahai cikgu
Sesekali menjadi guru
Jadilah guru untuk selama-lamanya
Source: Majalah Dewan Siswa, 2007
Thursday, February 5, 2009
Cleanliness
Dead flies on the windowsills, the corpses now
of more than one summer, weightless but unstirred,
on the third story at the top of the stairs.
Impossible for her to climb them now.
Too much tiredness. But she will still
go there again some day, she promises.
Will rest the bucket and sponge on every step
and breathe, waiting for the water to stop
sloshing in the pail and her heart to stop beating.
Even if every step's an hour, a threat of death,
the attic will be clean again. We watch.
We notice the streaked tableware, the dust,
chipped things, and flecks of old food lying here,
on this first floor, its clearly dirty windows
beyond the ladder of her eyes, while in her words,
in her thought, only the lament goes on
for the space above, that it's filling up with webs,
that its contents, our pasts, are waiting to be given
or thrown away. And how much we'd give now
for the oppressive cleanliness that once
reached every day, angrily, into the least
and darkest corners of our childhood
to show us its vigour again, that fearful
enemy we won our best days in opposing.
By: A. F. Moritz
Source: Poetry Daily
of more than one summer, weightless but unstirred,
on the third story at the top of the stairs.
Impossible for her to climb them now.
Too much tiredness. But she will still
go there again some day, she promises.
Will rest the bucket and sponge on every step
and breathe, waiting for the water to stop
sloshing in the pail and her heart to stop beating.
Even if every step's an hour, a threat of death,
the attic will be clean again. We watch.
We notice the streaked tableware, the dust,
chipped things, and flecks of old food lying here,
on this first floor, its clearly dirty windows
beyond the ladder of her eyes, while in her words,
in her thought, only the lament goes on
for the space above, that it's filling up with webs,
that its contents, our pasts, are waiting to be given
or thrown away. And how much we'd give now
for the oppressive cleanliness that once
reached every day, angrily, into the least
and darkest corners of our childhood
to show us its vigour again, that fearful
enemy we won our best days in opposing.
By: A. F. Moritz
Source: Poetry Daily
Tanah Airku
terlalu banyak yang kausembunyikan daripadaku
sebuah derita berair mata
juga segugus ingatan manis
kau himpunkan dalam perdu rawan hatimu
Usah kaupendam pahit manis masa lalu itu
kisahkan kepadaku meski berbaur sengsara
atau pernah bersalut luka
Tanah airku yang ranum
inilah rimba perkasihan yang damai
tempat kita mengukir cinta
sebuah perjalanan yang tak terturap
kerana hari ini dan esok
masih banyak denai kehidupan
yang bakal kita jejaki
Selamat ulang tahun tanah airku
akan kudamba masa lalu ke hati
dengan kekinian dan masa depan
yang abadi
Tanah airku
inilah sebungkus ikhlas daripadaku
buka dan tataplah
di dalamnya akan kau temui
jantung dan kalbu hatiku
By: Shamsudin Othman
Source: Majalah Dewan Siswa
sebuah derita berair mata
juga segugus ingatan manis
kau himpunkan dalam perdu rawan hatimu
Usah kaupendam pahit manis masa lalu itu
kisahkan kepadaku meski berbaur sengsara
atau pernah bersalut luka
Tanah airku yang ranum
inilah rimba perkasihan yang damai
tempat kita mengukir cinta
sebuah perjalanan yang tak terturap
kerana hari ini dan esok
masih banyak denai kehidupan
yang bakal kita jejaki
Selamat ulang tahun tanah airku
akan kudamba masa lalu ke hati
dengan kekinian dan masa depan
yang abadi
Tanah airku
inilah sebungkus ikhlas daripadaku
buka dan tataplah
di dalamnya akan kau temui
jantung dan kalbu hatiku
By: Shamsudin Othman
Source: Majalah Dewan Siswa
Wednesday, February 4, 2009
Membelai Rindu pada Al-Quran dan Sejadah
Tenggang waktu lalu
rakus duniawi memperdaya
dan aku terpedaya
membuatkan aku lupa pada hakikat
maknawi cinta
kerana hatiku yang tak pernah mengenal rupa
Berlari tenggang lalu
setelah sebati tenggelam dalam
pentingnya dunia dan gelojoh nafsu buta
tiba saat tunduk melutut
menekur pada jernih keinsafan
menyelongkar persembunyian lalai
dan menghambat alpa
setelah bertahun lalu berpeluh lelah
padajerih mengejar keduniaan
Setelah tenggang berlari pergi
saat ini tiba membelai rindu
pada Al-Quran dan sejadah
mengharap agar tidak lagi tergelincir
ke dalam jurang cinta murah!
By: Sayidah Mu’izzah Kamarul Shukri
Source: Majalah Dewan Siswa
rakus duniawi memperdaya
dan aku terpedaya
membuatkan aku lupa pada hakikat
maknawi cinta
kerana hatiku yang tak pernah mengenal rupa
Berlari tenggang lalu
setelah sebati tenggelam dalam
pentingnya dunia dan gelojoh nafsu buta
tiba saat tunduk melutut
menekur pada jernih keinsafan
menyelongkar persembunyian lalai
dan menghambat alpa
setelah bertahun lalu berpeluh lelah
padajerih mengejar keduniaan
Setelah tenggang berlari pergi
saat ini tiba membelai rindu
pada Al-Quran dan sejadah
mengharap agar tidak lagi tergelincir
ke dalam jurang cinta murah!
By: Sayidah Mu’izzah Kamarul Shukri
Source: Majalah Dewan Siswa
Tasbih Biru
Sebahagian hatiku kosong
dirobek bersama pemergian ayahanda
kedinginan dalam hatiku kian menusuk
tatkala memori silam menerajah benakku
Kutatapi kotak hitam lusuh
peninggalan ayahanda
jari-jariku menyentuh perlahan penutupnya
seutas tasbih biru terdampar jauh didasarnya
Kini kumengerti mesej pemberian ini
aku berjanji aku bersumpah
tasbih biru ini akan menjadi saksi
pengabadianku pada Yang Maha Esa
akan kubasahi lidahku dengan
puji-pujian pada Yang Satu
akan kukirimkan doa
untuk mengiringi ayahanda ke pintu syurga
By:
Eva Nuraizureen Mohd Yusoff
Sarah Hanis Rosli
Nur Liyana Yahya
Source: Majalah Dewan Siswa
dirobek bersama pemergian ayahanda
kedinginan dalam hatiku kian menusuk
tatkala memori silam menerajah benakku
Kutatapi kotak hitam lusuh
peninggalan ayahanda
jari-jariku menyentuh perlahan penutupnya
seutas tasbih biru terdampar jauh didasarnya
Kini kumengerti mesej pemberian ini
aku berjanji aku bersumpah
tasbih biru ini akan menjadi saksi
pengabadianku pada Yang Maha Esa
akan kubasahi lidahku dengan
puji-pujian pada Yang Satu
akan kukirimkan doa
untuk mengiringi ayahanda ke pintu syurga
By:
Eva Nuraizureen Mohd Yusoff
Sarah Hanis Rosli
Nur Liyana Yahya
Source: Majalah Dewan Siswa
Menunggu Kupu-kupu
Aku menunggu kupu-kupu
yang cantik singgah ke taman ini
Saban hari aku semakin sedih, pedih
Kubiar daun-daun gugur
Kubiar ranting-ranting bertabur
Kupu-kupu yang kutunggu
tidak jua muncul-muncul
Malam itu aku menjerit-jerit
pada bulan berwajah penuh, tinggi di langit
“Mengapa kau bulan cantik dan terang
di tamanmu pula berkelip jutaan bintang?”
Tidak percaya bulan turun perlahan-lahan
pada tangan nya ada pelbagai warna cahaya
“Jangan memekik-mekik anak muda”, kata bulan
“Inilah rahsiaku, lampu Sang Pencipta
membawa terang setiap kamar batin
milik mereka yang berusaha dan yakin”
Dengan lampu Sang Pencipta disisi
kubersihkan tamanku yang terbiar dan sepi
tiba-tiba kukaku, terharu saat terpandang
ribuan kupu-kupu berterbangan datang
By: Siti Zaleha M Hashim
Source: Majalah Dewan Siswa
yang cantik singgah ke taman ini
Saban hari aku semakin sedih, pedih
Kubiar daun-daun gugur
Kubiar ranting-ranting bertabur
Kupu-kupu yang kutunggu
tidak jua muncul-muncul
Malam itu aku menjerit-jerit
pada bulan berwajah penuh, tinggi di langit
“Mengapa kau bulan cantik dan terang
di tamanmu pula berkelip jutaan bintang?”
Tidak percaya bulan turun perlahan-lahan
pada tangan nya ada pelbagai warna cahaya
“Jangan memekik-mekik anak muda”, kata bulan
“Inilah rahsiaku, lampu Sang Pencipta
membawa terang setiap kamar batin
milik mereka yang berusaha dan yakin”
Dengan lampu Sang Pencipta disisi
kubersihkan tamanku yang terbiar dan sepi
tiba-tiba kukaku, terharu saat terpandang
ribuan kupu-kupu berterbangan datang
By: Siti Zaleha M Hashim
Source: Majalah Dewan Siswa
Prince of Jihad
Aku
Apa gerangan yang dilakukan musuh pada diriku
Aku, sungguh surgaku ada di hatiku
Dan taman-taman yang indah ada di dadaku
Ia selalu terus ada tetap bersamaku
Dan selalu ikut kemana saja kepergianku
Tak seorangpun bisa merampasnya dariku
Aku, andai mereka sampai membunuhku
Maka itulah waktu khalwat bersama Tuhanku
Dan jika mereka berani membunuhku
Sungguh, itulah bentuk kesyahidan bagiku
Dan merekapun akan segera menyusul kepergianku
Dan jikalau mereka dari negeri ini mengugusurku
Maka ku anggap itulah bentuk wisataku
Aku adalah aku yang mengerti benar jalan hidupku
Aku takkan pernah peduli dengan orang yang mencelaku
Selagi Allah tetap ridha dan mencintaiku
Aku tahu bahwa thaghut tidak menyukaiku
Tapi itu tidak masalah selama aku ada di jalan Tuhanku
Dan mana mungkin syaitan menyukai ajaran Nabiku
Tauhid akan kujunjung di atas kepalaku
Dan Pancasila syirik kan ku injak dengan kakiku
Hukum ilahiy ku angkat tinggi dengan tanganku
Dan undang-undang kafir kan ku tebas dengan pedangku
Enyahlah hai hamba thaghut, kalian adalah musuh abadiku
Dan aku adalah musuhmu sepanjang hidupku
Bila kalian ragu dengan ajaran tauhidku
Dan merasa benar dengan ajaran musuh Tuhanku
Mari kita mati bersama ! kamu dan aku..
Source: Prince of Jihad
Apa gerangan yang dilakukan musuh pada diriku
Aku, sungguh surgaku ada di hatiku
Dan taman-taman yang indah ada di dadaku
Ia selalu terus ada tetap bersamaku
Dan selalu ikut kemana saja kepergianku
Tak seorangpun bisa merampasnya dariku
Aku, andai mereka sampai membunuhku
Maka itulah waktu khalwat bersama Tuhanku
Dan jika mereka berani membunuhku
Sungguh, itulah bentuk kesyahidan bagiku
Dan merekapun akan segera menyusul kepergianku
Dan jikalau mereka dari negeri ini mengugusurku
Maka ku anggap itulah bentuk wisataku
Aku adalah aku yang mengerti benar jalan hidupku
Aku takkan pernah peduli dengan orang yang mencelaku
Selagi Allah tetap ridha dan mencintaiku
Aku tahu bahwa thaghut tidak menyukaiku
Tapi itu tidak masalah selama aku ada di jalan Tuhanku
Dan mana mungkin syaitan menyukai ajaran Nabiku
Tauhid akan kujunjung di atas kepalaku
Dan Pancasila syirik kan ku injak dengan kakiku
Hukum ilahiy ku angkat tinggi dengan tanganku
Dan undang-undang kafir kan ku tebas dengan pedangku
Enyahlah hai hamba thaghut, kalian adalah musuh abadiku
Dan aku adalah musuhmu sepanjang hidupku
Bila kalian ragu dengan ajaran tauhidku
Dan merasa benar dengan ajaran musuh Tuhanku
Mari kita mati bersama ! kamu dan aku..
Source: Prince of Jihad
Graduation (Friends Forever) - Spice Girls
And so we talk all night
About the rest of our lives
Where we’re gonna be when we turn 25
I keep thinking times will never change
Keep on thinking things will always be the same
But when we leave this year
We won’t be coming back
No more hanging out cause
We’re on different track
And if got something that you need to say
You better say it right now
Cause we’re moving on
And we can’t slow down
These memories are playing like a film without stand
And I keep thinking of that night in June
I didn’t know how much love
But it came too soon
And there was you and I
Stay at home talking on the telephone
We’d get so excited
We’d so scared
Laughing at ourselves
Thinking life’s not fair
And this is how it feels
As we go on..we remember..
All the times we had together
As our life change come whatever
We will still be friends forever
So if we got the big jobs
And we make the big money
When we look back now
Will our jokes be funny
About the rest of our lives
Where we’re gonna be when we turn 25
I keep thinking times will never change
Keep on thinking things will always be the same
But when we leave this year
We won’t be coming back
No more hanging out cause
We’re on different track
And if got something that you need to say
You better say it right now
Cause we’re moving on
And we can’t slow down
These memories are playing like a film without stand
And I keep thinking of that night in June
I didn’t know how much love
But it came too soon
And there was you and I
Stay at home talking on the telephone
We’d get so excited
We’d so scared
Laughing at ourselves
Thinking life’s not fair
And this is how it feels
As we go on..we remember..
All the times we had together
As our life change come whatever
We will still be friends forever
So if we got the big jobs
And we make the big money
When we look back now
Will our jokes be funny
Monday, January 26, 2009
The Lake Isle of Innisfree
I will rise and go now, and go to Innisfree
And a small cabin build there, of clay and wattles made
Nine bean-rows will have there, a hive for the honey bee
And live alone in the bee-loud glade
And I shall have some peace there, for peace comes dropping slow
Dropping from the veils of the morning to where the cricket sings
There midnight’s all a glimmer, and noon a purple glow
And evening full of the linnet’s wings
I will arise and go now, for always night and day
I hear lake water lapping with low sounds by the shore
While I stand on the roadway, or on the pavements grey
I hear it in the deep heart’s core
By William Butler Yeats
Literature in English for Lower Secondary Schools, 2000
Kementerian Pendidikan Malaysia dan Dewan Bahasa dan Pustaka
And a small cabin build there, of clay and wattles made
Nine bean-rows will have there, a hive for the honey bee
And live alone in the bee-loud glade
And I shall have some peace there, for peace comes dropping slow
Dropping from the veils of the morning to where the cricket sings
There midnight’s all a glimmer, and noon a purple glow
And evening full of the linnet’s wings
I will arise and go now, for always night and day
I hear lake water lapping with low sounds by the shore
While I stand on the roadway, or on the pavements grey
I hear it in the deep heart’s core
By William Butler Yeats
Literature in English for Lower Secondary Schools, 2000
Kementerian Pendidikan Malaysia dan Dewan Bahasa dan Pustaka
Sunday, January 25, 2009
The Dead Crow
He saw a dead crow in a drain
Near the post office
He saw an old man gasping for air
And a baby barely able to breathe
In a crowded morning clinic
This land is so rich
Why should we suffer like this?
I want clean air
For my grandchildren
I want the damned fools
To leave the forest alone
I want the trees to grow
The rivers run free
And the earth covered with grass
Let the politician plan how we may live
with dignity now and always
By: A. Samad Said
Literature in English for Lower Secondary Schools, 2000
Kementerian Pendidikan Malaysia dan Dewan Bahasa dan Pustaka
Near the post office
He saw an old man gasping for air
And a baby barely able to breathe
In a crowded morning clinic
This land is so rich
Why should we suffer like this?
I want clean air
For my grandchildren
I want the damned fools
To leave the forest alone
I want the trees to grow
The rivers run free
And the earth covered with grass
Let the politician plan how we may live
with dignity now and always
By: A. Samad Said
Literature in English for Lower Secondary Schools, 2000
Kementerian Pendidikan Malaysia dan Dewan Bahasa dan Pustaka
Subscribe to:
Posts (Atom)