Dengarlah anak ibu berpesan,
Lengkapkan diri dengan pelajaran,
Hanyalah itu jadi bekalan,
Untuk hidup di masa depan.
Ilmu itu pelindung diri,
Seperti kebun berpagar duri,
Seperti sinar intan baiduri,
Itulah tanda orang jauhari.
Hidupmu kini di masa remaja,
Bagaikan permata amat berharga,
Jangan jatuh ke lembah hina,
Nanti menyesal tidak berguna.
Kalau hidup terasa susah,
Sering berhadapan dengan masalah,
Hadapi dengan hati yang tabah,
Jangan cepat resah gelisah.
Syaitan menggoda bertambah gundah,
Jangan mengambil jalan yang mudah,
Jangan sekali mencuba dadah,
Kalau terjerat sesal tak sudah.
Jika masa sudah terbuang,
Perginya tidak akan berulang,
Di hari tua sesal mendatang,
Mengingatkan waktu yang telah hilang.
Dunia bagai lautan dalam,
Gelomang besar karangnya tajam,
Di situ banyak kapal tenggelam,
Ramailah insan yang telah karam.
Ingatlah wahai anakku sayang,
Tanah indah pusaka moyang,
Jangan terlepas ke tangan orang,
Sedangkan kita miskin terbuang.
Zurinah Hassan
Langit di Tangan, 1995.
Dewan Bahasa dan Pustaka.
Personal collection of poems and quotes from magazines, books, articles and friends =)
Click here if you like the post! ^^
Showing posts with label Family. Show all posts
Showing posts with label Family. Show all posts
Friday, March 23, 2012
Wednesday, May 19, 2010
Pantun Hari Lebaran
Pada hari Lebaran ramai takbiran
sepanjang malam tiada henti;
Hidup fana berakhir di kuburan
merindukan engkau sebelum mati
Hari Lebaran bermaaf-maafan
menghapus dosa lahir dan batin
Kalau dengan engkau berhadapan
tidak kuharap lagi yang lain
Hari Lebaran hari yang suci
saat manusia menjadi fitri;
Harap engkau menerimaku kembali
setelah sesat lepas kendali
Saat manusia menjadi fitri
segala dosanya Kauampuni
Setelah sesat di bumi keji
mencari ridhoMu di langit hati.
By: Ajip Rosidi
sepanjang malam tiada henti;
Hidup fana berakhir di kuburan
merindukan engkau sebelum mati
Hari Lebaran bermaaf-maafan
menghapus dosa lahir dan batin
Kalau dengan engkau berhadapan
tidak kuharap lagi yang lain
Hari Lebaran hari yang suci
saat manusia menjadi fitri;
Harap engkau menerimaku kembali
setelah sesat lepas kendali
Saat manusia menjadi fitri
segala dosanya Kauampuni
Setelah sesat di bumi keji
mencari ridhoMu di langit hati.
By: Ajip Rosidi
Saturday, May 8, 2010
Pantun Budi II (Adat)
Lebat daun bunga tanjung
Berbau harum bunga cempaka
Adat dijaga pusaka dijunjung
Baru terpelihara adat pesaka
Gadis Acheh berhati gundah
Menanti teruna menghulur tepak
Gula manis sirih menyembah
Adat dijunjung dipinggir tidak
Manis sungguh gula Melaka
Jangan dibancuh dibuat serbat
Sungguh teguh adat pusaka
Biar mati anak jangan mati adat
Anak teruna tiba di darat
Dari Makasar langsung ke Deli
Hidup di dunia biar beradat
Bahasa tidak dijual beli
Menanam kelapa di Pulau Bukum
Tinggi sedepa sudah berbuah
Adat bermula dengan hukum
Hukum bersandar di Kitab Allah
Buah berangan di rumpun pinang
Limau kasturi berdaun muda
Kalau berkenan masuklah meminang
Tanda diri beradat budaya
Laksamana berbaju besi
Masuk ke hutan melanda-landa
Hidup berdiri dengan saksi
Adat berdiri dengan tanda
Berbuah lebat pohon mempelam
Rasanya manis dimakan sedap
Bersebarlah adat seluruh alam
Adat pusaka berpedoman kitab
Ikan berenang di dalam lubuk
Ikan belida dadanya panjang
Adat pinang pulang ke tampuk
Adat sirih pulang ke gagang
Pokok pinang ditanam rapat
Puyuh kini berlari-lari
Samalah kita menjunjung adat
Tunggak budaya semai dihati
Bukan kacang sebarang kacang
Kacang melilit si kayu jati
Bukan datang sebarang hajat
Datang membawa hajat di hati
Budak-budak berlari ke padang
Luka kaki terpijak duri
Berapa tinggi Gunung Ledang
Tinggi lagi harapan kami
Helang berbega Si Rajawali
Turun menyambar anak merbah
Dari jauh menjunjung duli
Sudah dekat lalu menyembah
Angin kencang turunlah badai
Seumur hidup cuma sekali
Tunduk kepala jatuh ke lantai
Jari sepuluh menjunjung duli
Gobek cantik gobek cik puan
Sirih dikunyah menjadi sepah
Tabik encik tabiklah tuan
Kami datang membawa sembah
Doa mustajab selalu terkabul
Kepada Allah kita panjatkan
Sebelum berlangsung ijab dan kabul
Majlis berinai kita dulukan
Berbau harum bunga cempaka
Adat dijaga pusaka dijunjung
Baru terpelihara adat pesaka
Gadis Acheh berhati gundah
Menanti teruna menghulur tepak
Gula manis sirih menyembah
Adat dijunjung dipinggir tidak
Manis sungguh gula Melaka
Jangan dibancuh dibuat serbat
Sungguh teguh adat pusaka
Biar mati anak jangan mati adat
Anak teruna tiba di darat
Dari Makasar langsung ke Deli
Hidup di dunia biar beradat
Bahasa tidak dijual beli
Menanam kelapa di Pulau Bukum
Tinggi sedepa sudah berbuah
Adat bermula dengan hukum
Hukum bersandar di Kitab Allah
Buah berangan di rumpun pinang
Limau kasturi berdaun muda
Kalau berkenan masuklah meminang
Tanda diri beradat budaya
Laksamana berbaju besi
Masuk ke hutan melanda-landa
Hidup berdiri dengan saksi
Adat berdiri dengan tanda
Berbuah lebat pohon mempelam
Rasanya manis dimakan sedap
Bersebarlah adat seluruh alam
Adat pusaka berpedoman kitab
Ikan berenang di dalam lubuk
Ikan belida dadanya panjang
Adat pinang pulang ke tampuk
Adat sirih pulang ke gagang
Pokok pinang ditanam rapat
Puyuh kini berlari-lari
Samalah kita menjunjung adat
Tunggak budaya semai dihati
Bukan kacang sebarang kacang
Kacang melilit si kayu jati
Bukan datang sebarang hajat
Datang membawa hajat di hati
Budak-budak berlari ke padang
Luka kaki terpijak duri
Berapa tinggi Gunung Ledang
Tinggi lagi harapan kami
Helang berbega Si Rajawali
Turun menyambar anak merbah
Dari jauh menjunjung duli
Sudah dekat lalu menyembah
Angin kencang turunlah badai
Seumur hidup cuma sekali
Tunduk kepala jatuh ke lantai
Jari sepuluh menjunjung duli
Gobek cantik gobek cik puan
Sirih dikunyah menjadi sepah
Tabik encik tabiklah tuan
Kami datang membawa sembah
Doa mustajab selalu terkabul
Kepada Allah kita panjatkan
Sebelum berlangsung ijab dan kabul
Majlis berinai kita dulukan
Wednesday, April 28, 2010
Di Sebalik Wajah Ceria Ayah
Ayah
Di sebalik wajah ceriamu
Begitu ketara dapat kufahami
Betapa penatnya lelahmu
Bangun seawal pagi
Mencari sesuap nasi
Ayah
Di sebalik wajah ceriamu
Kau cuba rahsiakan sengsaramu
Tatkala kau mengeluh sakit
Tampak jelas wajahmu dimamah usia
Tatkala kau berdengkur lena
Tulang dadamu nampak berceragah
Maaf Ayah
Aku tidak pernah menyedari
Dan kau juga tidak pernah peduli
Kau hanya tahu merasa bahagia
Melihat aku keriangan
Setiap hari aku menunggu sesuatu terhidang
Dan tiada apa yang lebih membahagiakan
Dari melihat anakmu kekenyangan
Ayah
Disebalik wajah ceriamu
Aku juga mengerti
Kau tidak pernah terlupa
Mengasuh aku dengan budi bahasa
Mesra didikan tidak pernah leka
Kasihan ayah
Daripada tadahan tangan yang terbuka
Setiap hari kau berteleku di atas sejadah
Ada lelehan air mata di pipimu
Dengan doa restu
Yang kau kirimkan untukku
Terima kasih ayah
Ku mohon seribu doa
Semoga kau diberkati Allah
Kiriman: Halimah binti Tajon, Mingguan Wanita 2010
Di sebalik wajah ceriamu
Begitu ketara dapat kufahami
Betapa penatnya lelahmu
Bangun seawal pagi
Mencari sesuap nasi
Ayah
Di sebalik wajah ceriamu
Kau cuba rahsiakan sengsaramu
Tatkala kau mengeluh sakit
Tampak jelas wajahmu dimamah usia
Tatkala kau berdengkur lena
Tulang dadamu nampak berceragah
Maaf Ayah
Aku tidak pernah menyedari
Dan kau juga tidak pernah peduli
Kau hanya tahu merasa bahagia
Melihat aku keriangan
Setiap hari aku menunggu sesuatu terhidang
Dan tiada apa yang lebih membahagiakan
Dari melihat anakmu kekenyangan
Ayah
Disebalik wajah ceriamu
Aku juga mengerti
Kau tidak pernah terlupa
Mengasuh aku dengan budi bahasa
Mesra didikan tidak pernah leka
Kasihan ayah
Daripada tadahan tangan yang terbuka
Setiap hari kau berteleku di atas sejadah
Ada lelehan air mata di pipimu
Dengan doa restu
Yang kau kirimkan untukku
Terima kasih ayah
Ku mohon seribu doa
Semoga kau diberkati Allah
Kiriman: Halimah binti Tajon, Mingguan Wanita 2010
Saturday, July 4, 2009
Dear Mom
Dear Mom,
You said you'd always be there
But you're nowhere to be found
I can't believe you left me
I feel so low beneath the ground
There's nothing I can do now
I trusted you with all my heart
But now you're gone
You're the one who tore my life apart
I've learned not to trust
There's nothing more to say
You've lost someone special
You can't get back each day
Now you're the one left in the dark
And all of a sudden you feel my pain
You expect me to take you back
But you still feel you're not to blame
I could never forgive you
Even if I tried
You can never make up
For the lonely nights I've cried
You will never know the feeling
Of losing the person you need the most
To laugh and cry and love you
Instead of making you feel like a ghost
I've moved on with my life
Without you by my side
My pain has kept so long
I'm telling you how I feel inside
In a way I want to thank you
Because of you I'm strong
I just wanted you to know
I didn't turn out wrong
© By Krystal A. Bayer
You said you'd always be there
But you're nowhere to be found
I can't believe you left me
I feel so low beneath the ground
There's nothing I can do now
I trusted you with all my heart
But now you're gone
You're the one who tore my life apart
I've learned not to trust
There's nothing more to say
You've lost someone special
You can't get back each day
Now you're the one left in the dark
And all of a sudden you feel my pain
You expect me to take you back
But you still feel you're not to blame
I could never forgive you
Even if I tried
You can never make up
For the lonely nights I've cried
You will never know the feeling
Of losing the person you need the most
To laugh and cry and love you
Instead of making you feel like a ghost
I've moved on with my life
Without you by my side
My pain has kept so long
I'm telling you how I feel inside
In a way I want to thank you
Because of you I'm strong
I just wanted you to know
I didn't turn out wrong
© By Krystal A. Bayer
Friday, July 3, 2009
Love for my Daughter
Pregnancy
Shock, excitement, nerves and wonder
Sleeplessness ensues, my mind wanders...
Opportunity to mold a life so precious, a great responsibility, can I be a success?
Will I be a good mother, someone I am proud to be?
Will I show her the complete, unselfish love that every baby needs?
Giving birth, a TRUE labor of love
My baby is born, a daughter now here
A love is also born, so consuming and near
Almost suffocating, an overwhelming feeling surrounds me
Tears fill my eyes, I hold her so tightly
My love for my daughter, so grand and great
I succumb to my fear, my daughter can't wait
© By Season T. Sherman
Shock, excitement, nerves and wonder
Sleeplessness ensues, my mind wanders...
Opportunity to mold a life so precious, a great responsibility, can I be a success?
Will I be a good mother, someone I am proud to be?
Will I show her the complete, unselfish love that every baby needs?
Giving birth, a TRUE labor of love
My baby is born, a daughter now here
A love is also born, so consuming and near
Almost suffocating, an overwhelming feeling surrounds me
Tears fill my eyes, I hold her so tightly
My love for my daughter, so grand and great
I succumb to my fear, my daughter can't wait
© By Season T. Sherman
Wednesday, July 1, 2009
Dad
All those times I cried for you, you never came
Out of all the sports I played
You never showed up at one game
All of the awards I received
I never heard you clap
You were never there
For me to sit on your lap
All the times I fell
and scratched my knee
You were the one who wasn't there
To comfort me
All those times I was bored
And wanted someone to call
You still weren't there
Not there at all
I always tried to make you proud
Hoping you would love me more
but you never seemed to care
So what did I even do it for
You weren't there for any of my firsts
Might not be for any of my lasts
It's like you're not here in my present
Just like you weren't there in my past
I try to move on
But no one knows how hard it is
For your own father not to love you
As much as he loves his other kids
But I hold my head high
To keep things from looking so bad
But deep down I still wish
I had love from my dad
© By Jacqueline M. Smith
Tuesday, June 30, 2009
Brothers
Brothers,
The ones you go to for help,
For comfort,
For advice.
When you just had a fight with Mom and Dad,
Another girl,
Or your boyfriend.
Brothers,
The ones you go to, to tell them that
You're pregnant,
Getting married,
Or just need a shoulder to cry on.
The ones you look up to,
Share jokes,
And talk to about everything.
Brothers,
They're there for the good times,
Bad,
And everything in between.
My brother,
He helps me with everything.
Now all he needs,
Is me.
© By Jessica M. Beuerlein
Dedicated to her brother, Jacob Andrew Beuerlein.
Sunday, May 24, 2009
Thursday, May 14, 2009
Janda Setinggan
Hari lahirnya Jumaat lalu
lipan menyengat telunjuk kirinya.
Dan dalam matanya yang letih berpusar
asap dan debu. Dunianya amat sedu.
Sesekali angin berang merentap baju
di tengkuknya terserlah pulau panau.
Derita kembaii menderu.
Katanya: Derita itu aku.
Dirinya cemas diterjah usia
dalam kabus belasungkawa -
dia tergigau hampir seminggu
diancam lipan, angin dan debu yang sama.
Desa bahagia, derita.
Katanya: Derita itu aku.
Antara jamban dan dapur
di sisi parit tohor
hari mukanya sabut, tin dan lumpur.
Kalut mega direnungi; kenyit
kilat tak berbunyi. Memang telinga
kirinya kini tuli.
Terjulur pegaga segar dan
ketip ketam cergas mencakar
dalam bakul kenangannya:
sanggul-molek-punggung-cantik
ulam kehidupan zaman penjajah
terlucut colinya suatu pagi
dia dicantasi janji lelaki -
dirinya bukan perawan lagi.
Cinta dan sejarah
mencakar langsir dan mencekau pintunya
menyembur bara mantera
“Aku teringat pandang pertama.”1
Untuk apa? Hingga bila?
Dihantar rayu-resah Sanisah Huri
diterimanya lesu-lara dendang R. Azmi
simfoninya rimba duri
disergah arus mimpi.
Dia yakin di situ
segala tersumpah sebagai batu;
menjadi lebih pasti, sesekali
disentap semboyan kereta api.
Dalam dakapan cubit tak sakit
dia tertipu empat kali
dia setinggan janda berganda
tercemar di belakang kereta.
Tapi, mimpi akhirnya pangsapuri
taman-mini-kolam-mandi
geli hatinya sepagi, kerana
dirinya bas mini
mendesah ke Dayabumi
bersaing rezeki. Dan
sejak anak tunggalnya mati
hikayatnya gunung ngeri,
kehidupannya puisi elegi.
Lalu, di larik bibir
gincu tak seri;
di bawah kenanga
bau tak wangi;
di sisi lampu
bayangtakjadi.
Dia diejek usia, diserapah cinta
empat kali dia terbelah.
Disedari dirinya janda
dijerat rindu -
perahu sepi diagah sunyi
antara Bidong dan Langkawi.
Dia belajar bahagia
di sisi lilin dan kucing yang lara.
Jumaat lalu, di tengah gempa Armenia,
dirai hari lahirnya -
bertunda rekod R. Azmi, käset Sanisah Huri,
berlumba kenangan meracuninya.
Dia terbiasa -
dalam cahaya malamnya siang,
dalam gelita siangnya malam.
Dan kini semakin
payah dikenalnya bila
jantan insan-hewani, bila
pula hewani-insani.
Lelaki tak dipercaya lagi.
Sejak itu bergilir tetangga
mengadapnya - sedu dalam ayat syahdu
Dan ketika racaunya sampai ke puncak
Tujuh kali dia tersentak.
Darah, najis dan muntah saling mengasak.
Dalam biliknya berdinding akhbar,
tingkap berkiut, lantai berlumut
dia mengucap semput.
Tercungap. Tersentap. Terhenti.
Matinya di sisi sisa nasi,
Rehal retak, subang pengantin, foto anak.
Tak mungkin jantan menipunya lagi!
By: A. Samad Said
lipan menyengat telunjuk kirinya.
Dan dalam matanya yang letih berpusar
asap dan debu. Dunianya amat sedu.
Sesekali angin berang merentap baju
di tengkuknya terserlah pulau panau.
Derita kembaii menderu.
Katanya: Derita itu aku.
Dirinya cemas diterjah usia
dalam kabus belasungkawa -
dia tergigau hampir seminggu
diancam lipan, angin dan debu yang sama.
Desa bahagia, derita.
Katanya: Derita itu aku.
Antara jamban dan dapur
di sisi parit tohor
hari mukanya sabut, tin dan lumpur.
Kalut mega direnungi; kenyit
kilat tak berbunyi. Memang telinga
kirinya kini tuli.
Terjulur pegaga segar dan
ketip ketam cergas mencakar
dalam bakul kenangannya:
sanggul-molek-punggung-cantik
ulam kehidupan zaman penjajah
terlucut colinya suatu pagi
dia dicantasi janji lelaki -
dirinya bukan perawan lagi.
Cinta dan sejarah
mencakar langsir dan mencekau pintunya
menyembur bara mantera
“Aku teringat pandang pertama.”1
Untuk apa? Hingga bila?
Dihantar rayu-resah Sanisah Huri
diterimanya lesu-lara dendang R. Azmi
simfoninya rimba duri
disergah arus mimpi.
Dia yakin di situ
segala tersumpah sebagai batu;
menjadi lebih pasti, sesekali
disentap semboyan kereta api.
Dalam dakapan cubit tak sakit
dia tertipu empat kali
dia setinggan janda berganda
tercemar di belakang kereta.
Tapi, mimpi akhirnya pangsapuri
taman-mini-kolam-mandi
geli hatinya sepagi, kerana
dirinya bas mini
mendesah ke Dayabumi
bersaing rezeki. Dan
sejak anak tunggalnya mati
hikayatnya gunung ngeri,
kehidupannya puisi elegi.
Lalu, di larik bibir
gincu tak seri;
di bawah kenanga
bau tak wangi;
di sisi lampu
bayangtakjadi.
Dia diejek usia, diserapah cinta
empat kali dia terbelah.
Disedari dirinya janda
dijerat rindu -
perahu sepi diagah sunyi
antara Bidong dan Langkawi.
Dia belajar bahagia
di sisi lilin dan kucing yang lara.
Jumaat lalu, di tengah gempa Armenia,
dirai hari lahirnya -
bertunda rekod R. Azmi, käset Sanisah Huri,
berlumba kenangan meracuninya.
Dia terbiasa -
dalam cahaya malamnya siang,
dalam gelita siangnya malam.
Dan kini semakin
payah dikenalnya bila
jantan insan-hewani, bila
pula hewani-insani.
Lelaki tak dipercaya lagi.
Sejak itu bergilir tetangga
mengadapnya - sedu dalam ayat syahdu
Dan ketika racaunya sampai ke puncak
Tujuh kali dia tersentak.
Darah, najis dan muntah saling mengasak.
Dalam biliknya berdinding akhbar,
tingkap berkiut, lantai berlumut
dia mengucap semput.
Tercungap. Tersentap. Terhenti.
Matinya di sisi sisa nasi,
Rehal retak, subang pengantin, foto anak.
Tak mungkin jantan menipunya lagi!
By: A. Samad Said
Tuesday, May 5, 2009
Dad
I am here, saith the Lord
Do not despair
Hear what I say, see so much more
No more than you can handle will I give you to bear
Your Dad is now with me
He is doing great
He is full of mirth, we can all see
He keeps my angels smiling and in such a state!
They listen to all his stories
Moses, Jacob and Abraham stand amazed
At all the blessings and glories
This one man so easily phrased
Yes, we blessed him greatly while he was on earth
Now he is here blessing and praising us
Onward Christian Soldiers, he sings with mirth
With a twinkle in his eyes and heart full of trust
He knows we will take care of his family still on earth
He asks that we will comfort them and give them peace
I've known them and cared for them, we said, since birth.
Your Dad is doing well, dear family
so fill your empty hearts with peace.
By Maude E. Flowers
Inspirational Poems
Do not despair
Hear what I say, see so much more
No more than you can handle will I give you to bear
Your Dad is now with me
He is doing great
He is full of mirth, we can all see
He keeps my angels smiling and in such a state!
They listen to all his stories
Moses, Jacob and Abraham stand amazed
At all the blessings and glories
This one man so easily phrased
Yes, we blessed him greatly while he was on earth
Now he is here blessing and praising us
Onward Christian Soldiers, he sings with mirth
With a twinkle in his eyes and heart full of trust
He knows we will take care of his family still on earth
He asks that we will comfort them and give them peace
I've known them and cared for them, we said, since birth.
Your Dad is doing well, dear family
so fill your empty hearts with peace.
By Maude E. Flowers
Inspirational Poems
Monday, May 4, 2009
Perfect Mother
I'm not the perfect mother,and this I know is true
I never really took the time to tell you I love you,
I always wanted perfect,the bedrooms and the plates
I never really took the time to stop and appreciate.
I always was too busy,I never really looked,
I expected way too much from you,
even made you read your own books.
I know you saw the mothers who made lemonade and cakes,
who always really took the time to stop and to relate.
You all are young men now i know its much to late.
I wish I was the mother who stopped to make a date.
To make a date to be there,to giggle and to play,
to only worrie what else to do and never hesitate.
I know I hardly said it but this I know is true:
I hope you do believe me when I say that I love You!
By © Rosie B. Reyes
Friendship Poems
I never really took the time to tell you I love you,
I always wanted perfect,the bedrooms and the plates
I never really took the time to stop and appreciate.
I always was too busy,I never really looked,
I expected way too much from you,
even made you read your own books.
I know you saw the mothers who made lemonade and cakes,
who always really took the time to stop and to relate.
You all are young men now i know its much to late.
I wish I was the mother who stopped to make a date.
To make a date to be there,to giggle and to play,
to only worrie what else to do and never hesitate.
I know I hardly said it but this I know is true:
I hope you do believe me when I say that I love You!
By © Rosie B. Reyes
Friendship Poems
Monday, January 19, 2009
Ibu
Ibu
Dari kecil hingga aku dewasa
Kau berperang dengan dugaan
Kau menerima segala ujian
Kau menepis segala hinaan
Demi membesarkan aku ini
Ibu
aku kagum dengan ketabahanmu
aku kagum dengan semangatmu
aku kagum dengan pendirianmu
tidak kenal erti keperitan dalam membesarkan aku ini
Ibu
hapuskan air matamu
hapuskan segala kesedihanmu
hapuskan segala duka lara dalam hidupmu
kerna anakmu ini
akan membela nasibmu
akan berjuang mempertahankanmu
akan mengembalikan cahaya kehidupan yang sempurna
kepadamu
setelah titisnya air mata mu
setelah keluarnya keringat kasih
hanya untuk membesarkan aku ini
Ibu
senyumlah dikau
senyumlah kembali
itu janjiku kepadamu
akan ku pegang hingga ke akhir hayat
Ibu ...
Hasil Nukilan : Ben
Sumber: http://members.tripod.com/b3ntD/puisi.html
Dari kecil hingga aku dewasa
Kau berperang dengan dugaan
Kau menerima segala ujian
Kau menepis segala hinaan
Demi membesarkan aku ini
Ibu
aku kagum dengan ketabahanmu
aku kagum dengan semangatmu
aku kagum dengan pendirianmu
tidak kenal erti keperitan dalam membesarkan aku ini
Ibu
hapuskan air matamu
hapuskan segala kesedihanmu
hapuskan segala duka lara dalam hidupmu
kerna anakmu ini
akan membela nasibmu
akan berjuang mempertahankanmu
akan mengembalikan cahaya kehidupan yang sempurna
kepadamu
setelah titisnya air mata mu
setelah keluarnya keringat kasih
hanya untuk membesarkan aku ini
Ibu
senyumlah dikau
senyumlah kembali
itu janjiku kepadamu
akan ku pegang hingga ke akhir hayat
Ibu ...
Hasil Nukilan : Ben
Sumber: http://members.tripod.com/b3ntD/puisi.html
Saturday, January 17, 2009
Cincin
sepasang cincin ikat jemari rekatkan cinta;
antara dua jiwa berlainan
telah tergores ukiran “sayang” terpahat sama lain;
di balik cincin cinta
dua mata atas dan bawah adalah mata hati
yang menyatu dalam kekauatan cincin
bukan mata permata atau berlian
namun bias mata jiwa yang kadang pilu lalu menangis sendu
cincin ini adalah permata cinta, bukan harta benda
bukan emas putih atau kilau kekuningan 24 karat
cincin ini mungkin tak bernilai harga “uang”
tak laku jual, tak laku lelang
bukan berarti harus dibuang, harus kehilangan dua mata keindahan cincin
namun untuk dijaga, untuk dimakani arti
cincin ini ….
adalah cincin hadiah “ulang tahunmu” ketika cinta begitu indah untuk aku rasa
cincin ini…
adalah cincin penyatu jiwa kita….
cincin ini…
ada untuk kita jaga …
untuk cinta kita…
Sumber: Diningrat
antara dua jiwa berlainan
telah tergores ukiran “sayang” terpahat sama lain;
di balik cincin cinta
dua mata atas dan bawah adalah mata hati
yang menyatu dalam kekauatan cincin
bukan mata permata atau berlian
namun bias mata jiwa yang kadang pilu lalu menangis sendu
cincin ini adalah permata cinta, bukan harta benda
bukan emas putih atau kilau kekuningan 24 karat
cincin ini mungkin tak bernilai harga “uang”
tak laku jual, tak laku lelang
bukan berarti harus dibuang, harus kehilangan dua mata keindahan cincin
namun untuk dijaga, untuk dimakani arti
cincin ini ….
adalah cincin hadiah “ulang tahunmu” ketika cinta begitu indah untuk aku rasa
cincin ini…
adalah cincin penyatu jiwa kita….
cincin ini…
ada untuk kita jaga …
untuk cinta kita…
Sumber: Diningrat
Subscribe to:
Posts (Atom)
