Click here if you like the post! ^^

Showing posts with label Grief. Show all posts
Showing posts with label Grief. Show all posts

Thursday, May 20, 2010

Pantun Pisang Emas

Pisang emas dibawa berlayar
pisang batu di atas peti;
Hati cemas engkau kian samar
kian menjauh dari hati

Pisang batu di atas peti
dimakan beruk pemetik kelapa;
Engkau menjauh dari hati
hidup terasa menjadi hampa

Pisang raja hanya setandan
dihaturkan pada tuan haji;
Siang malam tersedan-sedan
karena aku kautinggal pergi

Pisang raja dalam perahu
jadi simpanan jurumudi;
Aku sengsara hilang tuju
mohon ampun tak kauberi

Pisang makanan jurumudi
tidak keluar dari lemari;
Mohon ampun tak kauberi
aku tersiksa sampai mati

By: Ajip Rosidi

Thursday, May 14, 2009

Janda Setinggan

Hari lahirnya Jumaat lalu
lipan menyengat telunjuk kirinya.
Dan dalam matanya yang letih berpusar
asap dan debu. Dunianya amat sedu.
Sesekali angin berang merentap baju
di tengkuknya terserlah pulau panau.
Derita kembaii menderu.

Katanya: Derita itu aku.
Dirinya cemas diterjah usia
dalam kabus belasungkawa -
dia tergigau hampir seminggu
diancam lipan, angin dan debu yang sama.
Desa bahagia, derita.

Katanya: Derita itu aku.
Antara jamban dan dapur
di sisi parit tohor
hari mukanya sabut, tin dan lumpur.
Kalut mega direnungi; kenyit
kilat tak berbunyi. Memang telinga
kirinya kini tuli.
Terjulur pegaga segar dan
ketip ketam cergas mencakar
dalam bakul kenangannya:
sanggul-molek-punggung-cantik
ulam kehidupan zaman penjajah
terlucut colinya suatu pagi
dia dicantasi janji lelaki -
dirinya bukan perawan lagi.

Cinta dan sejarah
mencakar langsir dan mencekau pintunya
menyembur bara mantera
“Aku teringat pandang pertama.”1
Untuk apa? Hingga bila?
Dihantar rayu-resah Sanisah Huri
diterimanya lesu-lara dendang R. Azmi
simfoninya rimba duri
disergah arus mimpi.
Dia yakin di situ
segala tersumpah sebagai batu;
menjadi lebih pasti, sesekali
disentap semboyan kereta api.

Dalam dakapan cubit tak sakit
dia tertipu empat kali
dia setinggan janda berganda
tercemar di belakang kereta.
Tapi, mimpi akhirnya pangsapuri
taman-mini-kolam-mandi
geli hatinya sepagi, kerana
dirinya bas mini
mendesah ke Dayabumi
bersaing rezeki. Dan
sejak anak tunggalnya mati
hikayatnya gunung ngeri,
kehidupannya puisi elegi.
Lalu, di larik bibir
gincu tak seri;
di bawah kenanga
bau tak wangi;
di sisi lampu
bayangtakjadi.
Dia diejek usia, diserapah cinta
empat kali dia terbelah.

Disedari dirinya janda
dijerat rindu -
perahu sepi diagah sunyi
antara Bidong dan Langkawi.
Dia belajar bahagia
di sisi lilin dan kucing yang lara.
Jumaat lalu, di tengah gempa Armenia,
dirai hari lahirnya -
bertunda rekod R. Azmi, käset Sanisah Huri,
berlumba kenangan meracuninya.
Dia terbiasa -
dalam cahaya malamnya siang,
dalam gelita siangnya malam.
Dan kini semakin
payah dikenalnya bila
jantan insan-hewani, bila
pula hewani-insani.
Lelaki tak dipercaya lagi.
Sejak itu bergilir tetangga
mengadapnya - sedu dalam ayat syahdu
Dan ketika racaunya sampai ke puncak
Tujuh kali dia tersentak.
Darah, najis dan muntah saling mengasak.
Dalam biliknya berdinding akhbar,
tingkap berkiut, lantai berlumut
dia mengucap semput.
Tercungap. Tersentap. Terhenti.
Matinya di sisi sisa nasi,
Rehal retak, subang pengantin, foto anak.
Tak mungkin jantan menipunya lagi!

By: A. Samad Said

Sunday, April 26, 2009

To My Beloved

You had a talent for bringing special meaning to life,
It was such a pleasure to be your wife.
You helped me to grow and to realize
The fullness and the beauty in our lives.

Every day I counted my blessings.
Then God called, and you went away
Out of this world to a brighter day.
Suddenly my life of gladness
Turned to utter sadness.

My grief wears me down, I shed so many tears,
As I recall your love and devotion through the years.
For your sake and in memory of your name,
I pray for strength to do things the same.

To reach out, to fill the hours with useful ways,
To comfort, to cheer and have no more empty days.
I try to console myself -- it was God's greater plan,
So I must accept it, if I can.

You moved away to His splendid home above,
If there is life after death,
I know you will be waiting there for me,
With love.

Though Heaven and Earth divide us, and the distance is so great,
I count my blessings for the years you were my mate.
I will live my life remembering, while you wait, slumbering.
My beloved, may you rest in peace.

By Celia Wenig

Friday, April 24, 2009

The Promise

Of angel wings and heavenly things
There’s very little known,
For those who have the answers
Are, forever, from us gone.

Life in the hereafter,
In faith, I must accept;
Thoughts that trouble not the people
With families still intact.

But, those of us who’ve traveled
Down the lonely path of grief,
Are forever seeking answers
To the riddle, which is life.

We trek through shadowed forests
Past the ugly shroud of death,
Toward a promise for the future
Of a kinder, better place.

So, we look to see the angel wings
And listen for the hymn
That God will send to guide us
When we leave to be with Him.

By Diane Robertson

Wednesday, April 22, 2009

Hope

Hope is the thing with feathers
that perches in the soul,
and sings the tune—without the words,
and never stops at all.

And sweetest in the gale is heard;
And sore must be the storm
That could abash the little bird
That kept so many warm.

I've heard it in the chillest land,
and on the strangest sea;
yet, never, in extremity,
it asked a crumb of me.

By Emily Dickinson

Saturday, April 18, 2009

Grief is Like A River

My grief is like a river,
I have to let it flow,
but I myself determine
just where the banks will go.

Some days the current takes me
in waves of guilt and pain,
but there are always quiet pools
where I can rest again.

I crash on rocks of anger;
my faith seems faint indeed,
but there are other swimmers
who know that what I need

Are loving hands to hold me
when the waters are too swift,
and someone kind to listen
when I just seem to drift.

Grief's river is a process
of relinquishing the past.
By swimming in hope's channels,
I'll reach the shore at last.


By Cinthia G. Kelley

Friday, February 6, 2009

Sekawan Rerama

Sekawan rerama
Terbang tinggi mencari madunya
Dikelopak bunga yang kini semakin hilang
Ditelan pembangunan kejam
Hutan-hutan batu

Sekawan rerama
Terbang lagi mencari dedaun pohon
Untuk dihinggapi membuat sarang
Namun segala ranting kehidupan
Rapuh tersungkur
Di kaki pembalakan haram
Manusia menelan segala kekayaan anugerah Tuhan

Sekawan rerama
Terbang lagi
Dengan tekad penghijrahan
Kerana daerah tercinta kini
Menggamit sepi
Tiada lagi nyanyian unggas
Mewarnai rimba harapan ini

Sekawan rerama
Tertanya-tanya kini
Ke mana harus pergi?

By: Nor Sa’diah Sahir
Source: Majalah Dewan Siswa, Jun 2007

Thursday, February 5, 2009

Sahabat

Melihat matahari terbenam
tidak sugul tidak suram
mencari idea dan ilham
ketika munculnya malam

Teringat ketika bersamamu
umpama isi dengan kuku
lahir daripada hati yang terbuku
menusuk kedalam kalbu

Terkenang nostalgia lama
mengungkap seribu kata
teruntai sejuta makna
kenangan kita bersama

Andai kau terpaksa pergi
janganla aku kaulupai
peganglah kepada janji
pertemuan pasti kembali

By: Muhammad Hanif Syafiq Mohd Hafidz
Source: Majalah Dewan Siswa, September 2008

Ufuk Melukis Umbra

Arena pertempuran memercik
lava darah yang membuak
derita perlindungan diabai insan
hanya denyutan nadi dikawal rapi
agar tidak terhenti hina

Si kecil merangkak
lemah longlai persis tenaga diserap raksasa durjana
huluran simpati didamba
meniti kekerasan kerikil kemelut medan perang
nyawa dan darah diburu infantri
keruntuhan iktisad misi penjarah tak bermata
walau ufuk merah melukis umbra
walau jutaan air mata mengalir lesu
dengkimu tetap tak berakhir di situ

Berdas peluru terlontar
menjamah setiap inci lapisan daging tak berdosa
jeritan demi jeritan
tangisan demi tangisan
kemanusian mati di hujung tembakan akhirnya
terperosok diri dicelahan lubang dunia

Teduh awan menyejuk dunia
teduh hati merenyuk nurani
menghadirkan gerimis duka
yang terbit di celahan langit nirmala
bisakah manisan merdeka dihidu
sebelum kelopak mata tertutup
disamping hentian denyutan nadi?

Merdeka dan kebebasan diperjuang
biar terkoyak kulit di tubuh ini
asal maruah tak tercalar hina
biar bara merdeka kunyalakan
biar penindas kupenggalkan
agar merdeka syumul di sini
kekal segala sacral kebahagiaan
dan ketenangan

Merdeka!

Definition:
umbra – bahagian baying yang sangat gelap
iktisad – ekonomi
infrantri – pasukan tentera berjalan kaki

By: Siti Fatimah Mohd. Said
Source: Majalah Dewan Siswa, September 2008

Tanah Airku

Menjangkau usia jubli emas ini
terlalu banyak yang kausembunyikan daripadaku
sebuah derita berair mata
juga segugus ingatan manis
kau himpunkan dalam perdu rawan hatimu

Usah kaupendam pahit manis masa lalu itu
kisahkan kepadaku meski berbaur sengsara
atau pernah bersalut luka

Tanah airku yang ranum
inilah rimba perkasihan yang damai
tempat kita mengukir cinta
sebuah perjalanan yang tak terturap
kerana hari ini dan esok
masih banyak denai kehidupan
yang bakal kita jejaki

Selamat ulang tahun tanah airku
akan kudamba masa lalu ke hati
dengan kekinian dan masa depan
yang abadi

Tanah airku
inilah sebungkus ikhlas daripadaku
buka dan tataplah
di dalamnya akan kau temui
jantung dan kalbu hatiku

By: Shamsudin Othman
Source: Majalah Dewan Siswa

Rumahku Pulau Banjir

Rumahku
tenggelam bersama
air kotor hamis dan busuk

sampah sarap mengekang
perjalanan hakiki
suatu destinasi
impian diri

banjir rumahku
isi kandungannya ranap
menjamah aku suatu kerugian

dipaksa pula aku
tanggung buat selama-lamanya

By: nabiha mohd mashud
Source: Majalah Dewan Siswa

Wednesday, February 4, 2009

Disebalik Wajahmu

Semalam
Kulihat wajah tuamu
Redup matamu menyimpan sejuta rahsia
Kau cuba meluahkan isi hatimu
Tapi pada malam itu
Jasadmu tidak bermaya lagi

Thursday, January 22, 2009

Mujahidah dari Bumi Jihad

Aku Wanita Mujahidah Sejati…
Yang tercipta dari tulang rusuk lelaki yang berjihad..
Bilakah khan datang seorang peminang menghampiriku mengajak tuk berjihad..
Kelak ku akan pergi mendampinginya di bumi Jihad..
Aku selalu siap dengan semua syarat yang diajukannya..
cinta Allah, Rasul dan Jihad Fisabilillah
Aku rela berkelana mengembara dengannya lindungi Dienullah
Ikhlas menyebarkan dakwah ke penjuru bumi Allah

Tak mungkin ku pilih dirimu..bila dunia lebih kau damba…
Terlupa kampung halaman, sanak saudara bahkan harta yang terpendam..
Hidup terasing apa adanya..asalkan di akhirat bahagia…
Bila aku setuju dan kaupun tidak meragukanku…
Bulat tekadku untuk menemanimu…

Aku Wanita mujahidah pilihan…
Yang mengalir di nadiku darah lelaki yang berjihad…
Bilakah khan datang menghampiriku seorang peminang yang penuh ketawadhu`an…
Kelak bersamanya kuarungi bahtera lautan jihad…
Andai tak siap bisa kau pilih…
Agar kelak batin, jiwa dan ragamu tak terusik,
terbebani dengan segala kemanjaanku, kegundahanku, kegelisahanku…
terlebih keluh kesahku…

Tak mungkin aku memilihmu…
bila yang fana lebih kau cinta…
Lupa akan kemilau dunia dan remangnya lampu kota…
lezatnya makanan dan lajunya makar durjana…
Sebab meninggalkan dakwah karena lebih mencintaimu…
dan menanggalkan pakaian taqwaku karena laranganmu…

Meniti jalan panjang di medan jihad…
Yang ada hanya darah dan airmata tertumpah…
serta debu yang beterbangan,
keringat luka dan kesyahidan pun terulang…
Jika masih ada ragu tertancap dihatimu…
Teguhkan `azzam`ku tuk lupa akan dirimu…

Aku wanita dari bumi Jihad…
Dengan sekeranjang semangat berangkat ke padang jihad…
Persiapkan bekal diri menanti pendamping hati, pelepas lelah serta kejenuhan…
tepiskan semua mimpi yang tak berarti…
Adakah yang siap mendamaikan Hati ??
Karena tak mungkin kulanjutkan perjalanan ini sendiri…
tanpa peneguh langkah kaki.. pendamping perjuangan…

Yang melepasku dengan selaksa do`a…
meraih syahid… tujuan utama…
Robbi… terdengar panggilanMu tuk meniti jalan ridhoMu…
Kuharapkan penolong dari hambaMu… menemani perjalanan ini…

Oleh: marwan hadid http://www.arrahmah.com/forum/viewthread/7/

Hantarkan Aku Kesana

Gejolak yang membuncah memenuhi dada ini…
Bersama asa yang rindu mendalam…
Dari hamba yang berlumur dosa dan kealpaan…
Berharap dapat bersua dengan-Mu…
Wahai Rabbul`alamiin…

Dengan taubat ku berharap…
Kuatkan jiwa ini mendatanginya…
Kokohkan langkah kaki ini menempuhnya…
Azzamkan niat ini dalam mencapainya…
Ikhlaskan hati ini menjalaninya…

Aku rindu…aku rindu…aku rindu…
Rindu berjumpa dengan-Mu dalam SYAHADAH…
Rindu bersua dengan-Mu dalam IMAN…
Rindu bersama-Mu dalam TAUHID…
Rindu indahnya hidup dalam naungan ridha-Mu…
Syari`at ISLAM…Daulah ISLAM…Khilafah ISLAM

Duhai Alloh yang tiada sekutu bagi-Mu…
Hantarkanlah kerinduanku ini…
Mudahkanlah…
Lapangkanlah…
Tuk raih cita-cita…
KEMULIAAN HIDUP DALAM ISLAM, ATAU
KESYAHIDAN DALAM PERJUANGAN

Aku berharap termasuk yang Kau hantarkan….
Ridhai dan kabulkanlah…
Amien ya Alloh, ya Rabbal`alamiin…

Oleh:Marwan Hadid http://www.arrahmah.com/forum/viewthread/5/

Wednesday, January 21, 2009

Puisi Dalam Hujan

Dalam hujan lebat petang itu
Maka
Aku menjadi seorang pemuda
Yang dibiarkan basah

Sebab
Dalam pada begitu ramai
Gadis yang lalu
Namun
Tak seorang pun antaranya
Yang sudi menjemput
Supaya aku singgah
Berteduh
Dan menumpang di bawah payungnya

Oh, alangkah sedihnya aku
Menjadi lelaki!

Zahari Hasib
Karyawan Perak
Sumber: Majalah Keluarga, April 2004

Saturday, January 17, 2009

Jeritan Hati

Setelah sekian lama
di sana dilanda ombak luka
Palestin negaramu diragut dirobek dicarik
sehingga kelihatan parutnya
Palestin meluap darahmu di dalam jasad
melontar peluru tidak bermata

Palestin
kau lemas di jeladeri kesengsaraan
kau sesat dalam rimba perjalananmu
kau cuba pertahan akar bangsamu
agar terus menghijau persada
agar terus membela bangsa

Di persada kau bertunjang cekal
hadir pendusta durjana
mencantas wibawa dahan hadarahmu
memecah kedamaian persadamu
kau bersatu di langit harapan
demi menjulang ketamadunan

Palestin
khalifahmu tidak kenal putus asa
menunggu hadirnya permata
menanti datangnya suria
selagi menjulang semangatnya

Oleh: Nurul Sakinah
Sumber: Majalah Dewan Siswa, April 2007

Tuesday, January 13, 2009

Dari Jendela

Langit sendawa, termuntah air
bercampur debu asap pembangunan
sesekali kilat menyambar
kata orang ia memanah syaitan
tapi itu semua kerja Tuhan

Dari jendela
aku menghampar impian
dicelah rintik hujan
terkenang segala kisah lama
betapa masa terbuang sia-sia

Melihat sekeping gambar kawan
dalam kesejukan di tengah putih salji
hatiku tak terpujuk lagi

Kawan
engkau sedang menggapai awan
aku masih di jendela ini

Oleh: Muhamad Nur Adzim Amran
Sumber: Majalah Dewan Siswa
Multi-styled Text Generator at TextSpace.net